Rechercher dans ce blog
Sunday, October 31, 2021
Puluhan Panitia dan Peserta Diklatsar Menwa UNS Tinggal di Asrama Guna Permudah Proses Penyidikan - Kompas TV

SOLO, KOMPAS.TV - Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) mewajibkan seluruh panitia dan peserta Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) tinggal di asrama selama proses penyidikan polisi. meninggalnya mahasiswa Gilang Endi Saputra (21).
"Sewaktu-waktu dipanggil mereka siap hadir, siap ada, dan bisa memberikan keterangan sesuai fakta yang terjadi di lapangan," kata Ketua Tim Evaluasi Korps Mahasiswa Siaga alias Menwa Batalyon 905 Jagal Abilawa UNS Sunny Ummul Firdaus, Sabtu (30/10/2021).
Seorang mahasiswa D4 Prodi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Sekolah Vokasi Gilang Endi Saputra (21) dikabarkan meninggal dunia saat mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Pra Gladi Patria XXXVI, pada Ahad (24/10/2021). Acara tersebut melibatkan 28 orang, 17 panitia dan 11 peserta.
Sunny mengatakan, panitia dan peserta mulai tinggal di Asrama UNS sejak kematian Gilang. "(Di Asrama) sampai polisi mengatakan proses penyidikan ini cukup," ujarnya menegaskan.
Baca Juga: Menwa UNS Dibekukan usai Satu Mahasiswa Meninggal Dunia saat Diklatsar
Selama proses penyidikan, para mahasiswa tersebut masih boleh mengikuti perkuliahan secara daring. Bahkan, para wali mahasiswa diperkenankan menjenguk.
"Kami semua sepakat, kekerasan apa pun bentuknya, fisik maupun verbal tidak ada toleransi," pungkas Sunny.
Laporan kematian Gilang sebelumnya ditindaklanjuti dengan penyelidikan oleh polisi. Kepolisian Resor Kota Solo mengatakan telah memperoleh hasil autopsi korban dari Rumah Sakit Bhayangkara Semarang pada Jumat (29/10/2021) pukul 11.00 WIB.
Kepala Polresta Solo Komisairs Besar Ade Safri Simanjuntak menuturkan, penyebab meninggalnya Gilang akibat kekerasan benda tumpul.
"Dari hasil otopsi disimpulkan bahwa penyebab kematian (Gilang) karena luka akibat kekerasan benda tumpul yang menyebabkan mati lemas," kata Ade, Jumat.
Lebih lanjut, Ade memastikan, pihaknya akan terus melakukan penyidikan dengan meminta keterangan ahli yang dilibatkan dalam autopsi jenazah Gilang dari tim kedokteran forensik.
"Kami akan melakukan pemeriksaan terhadap dokter jaga yang pada saat itu menerima pertama kali korban ketika tiba di RSUD Dr Moewardi pada Minggu (24/10/2021) pukul 22.02 WIB," ujar Ade.
Puluhan Panitia dan Peserta Diklatsar Menwa UNS Tinggal di Asrama Guna Permudah Proses Penyidikan - Kompas TV
Read More
Siapa Pemilik Cek Rp 35,9 M yang Ditemukan Cleaning Service Bandara Soetta? - detikNews

Petugas cleaning service Bandara Internasional Seokarno-Hatta (Soetta), Halimah, menemukan cek senilai Rp 35,9 miliar. Siapakah pemilik cek tersebut?
Corporate dan Marketing Communication Manager PT Angkasa Pura Solusi (APS) Virgiawan mengatakan saat ini cek itu belum diambil pemiliknya. Cek itu sedang diamankan di dalam brankas.
"Untuk saat ini, cek itu masih dalam brankas kami, kami amankan," kata Virgie saat dihubungi detikcom, Sabtu (30/10/2021).
Virgie mengatakan sudah ada pihak yang menghubungi terkait kepemilikan dompet dan cek senilai Rp 35,9 M tersebut. Namun pihaknya masih menunggu kepastiannya.
Virgie mengatakan siapa pun pemilik cek tersebut bisa langsung datang ke Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Pihaknya akan melakukan klarifikasi untuk memastikan cek tersebut betul-betul kembali kepada pemiliknya.
Pemilik cek tersebut adalah pemilik dompet berwarna cokelat. Sebab, cek bernilai fantastis itu ditemukan Halimah di dompet yang tergeletak di kursi ruang tunggu keberangkatan terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta. Dia menemukannya saat bersih-bersih di lokasi pada pada Jumat (29/10) lalu sekitar pukul 10.00 WIB.
"Setelah itu langsung saya amankan dan diserahkan ke sekuriti bandara. Saat dicek isinya ada cek senilai Rp 35,9 miliar, paspor, dan lima buku tabungan," kata Halimah saat dihubungi detikcom, Jumat (29/10).
Halimah menuturkan ada dua cek di dalam dompet tersebut. Namun cek yang satunya sudah dalam kondisi terparaf belum tertera nilainya.
Halimah mengungkapkan, dari lima tabungan tersebut, nilainya cukup fantastis. Namun dia tidak mengetahui secara detail nominal uang di lima buku tabungan tersebut.
Halimah belum mengetahui apakah dompet yang ia temukan itu sudah dikembalikan kepada pemiliknya.
"Sampai saat ini saya belum mendapat informasi lanjutannya dari sekuriti bandara sudah dikembalikan ke yang empunya atau belum," tambahnya.
Tonton juga Video: Pintu Masuk dari LN Dibatasi, Karantina Juga Diperketat
Siapa Pemilik Cek Rp 35,9 M yang Ditemukan Cleaning Service Bandara Soetta? - detikNews
Read More
Saturday, October 30, 2021
Jokowi, PM Inggris hingga PM Australia Ngobrol Bareng Penuh Senyum - detikNews

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyaksikan pertunjukan kebudayaan di Terme di Diocleziano, Roma, Italia. Di lokasi tersebut, Jokowi sempat berbincang dengan para pemimpin negara lain.
Berdasarkan keterangan tertulis dari Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Minggu (31/10/2021), pertunjukan kebudayaan itu digelar pada Sabtu waktu setempat. Pertunjukan kebudayaan ini merupakan bagian dari rangkaian KTT G20.
Jokowi tiba di tempat yang dibangun antara tahun 298 dan 306 Masehi tersebut pada 20.11 waktu setempat. Jokowi tampak berbincang bersama sejumlah pemimpin seperti Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Perdana Menteri Australia Scott Morrison, hingga Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Dari foto yang dibagikan, perbincangan para pemimpin negara itu tampak hangat dan penuh senyum.
Jokowi kemudian bergabung bersama Perdana Menteri Italia, Mario Draghi, dan para pemimpin negara lain untuk menyaksikan pertunjukan budaya yang menyuguhkan karya seni, pertunjukan musik, hingga tarian.
Usai menyaksikan pertunjukan budaya, Jokowi kemudian menuju Istana Kepresidenen Palazzo del Quirinale untuk menghadiri jamuan santap malam oleh Presiden Italia Sergio Mattarella. Presiden pun sempat berfoto bersama dengan Presiden dan PM Italia beserta pasangan masing-masing.
Turut mendampingi Presiden dalam jamuan santap malam tersebut yaitu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Simak Video: Momen Jokowi Lakukan Pertemuan Bilateral dengan Presiden Prancis
(knv/gbr)Jokowi, PM Inggris hingga PM Australia Ngobrol Bareng Penuh Senyum - detikNews
Read More
Tes PCR Jadi Syarat Naik Pesawat, Epidemiolog: Antigen Lebih Sesuai! - Kompas.com - KOMPAS.com
/data/photo/2021/10/30/617ce7be6ae4c.jpg)
KOMPAS.com - Tes PCR kini jadi syarat naik pesawat selama masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).
Dalam Surat Edaran (SE) Menteri Perhubungan Nomor 93 Tahun 2021, tes PCR ini diwajibkan bagi mereka yang melakukan perjalanan udara dari dan ke Pulau Jawa dan Bali.
Sementara untuk luar Jawa-Bali, calon penumpang dapat menunjukkan hasil tes PCR dan boleh cukup dengan hasil rapid test antigen.
Timbul pertanyaan, mengapa tidak semua menggunakan tes cepat antigen. Tarif tes PCR sudah diturunkan, tetapi masih lebih tinggi dibanding tes antigen.
Berikut tanggapan dari epidemiolog:
Baca juga: Alasan Harga PCR Bisa Turun hingga Rp 275.000 Menurut Kemenkes
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email
Tes antigen lebih sesuai
Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman menyampaikan bahwa tes antigen lebih sesuai untuk digunakan sebagai syarat perjalanan udara.
Menurut dia, perspektif PCR adalah standar emas yang mana metode final untuk memastikan apakah seseorang mengidap Covid-19 atau tidak.
Untuk itu, penggunaannya pun sebaiknya diterapkan pada ranah yang bersifat klinis, seperti di rumah sakit.
"Tes PCR dia memang memiliki validitas yang tinggi, tapi ia harus diterapkan pada satu kondisi yang memerlukan keakuratan lebih tinggi, karena dia kan memang gold standard, sebagai konfirmasi, misalnya di rumah sakit," ujar Dicky, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (30/9/2021).
Sementara jika digunakan untuk mengamankan masyarakat pengguna moda transportasi umum, tes PCR tidak begitu tepat.
"Kalau berbicara untuk moda transportasi, kalau pesawat lebih rendah (risikonya) ya untuk apa, dan situasinya berbasis risiko saat ini di publik semua community transmission kok," lanjut dia.
Ada faktor efektivitas dan kesehatan masyarakat yang harus diperhatikan.
Secara hasil, tes PCR memang efektif untuk mengonfirmasi keberadaan virus corona, namun ia bukan satu-satunya.
"Kalau kesehatan masyarakat, harus dilihat efektif atau tidak, ya jelas PCR efektif, tapi ada juga yang lain yang juga efektif, yaitu rapid test antigen. Rapid test antigen terbukti efektif, sudah jelas. Studi terakhir di Inggris minggu lalu menunjukkan 97 persen (efektif mendeteksi virus)," papar Dicky.
Baca juga: Aturan Masa Berlaku PCR dan Harganya Mulai 27 Oktober 2021
PCR masih belum terjangkau
Dicky juga menyebut faktor keterjangkauan tes PCR itu sendiri. Dia menilai tes PCR masih mahal.
"Cost effective enggak? Jelas tidak. Selain mahal harganya, tidak mudah (diakses), tidak cepat hasilnya. Sehingga tidak ada keberlanjutannya (terkait kecepatan tracking dan tindakan penanganan)," ungkap Dicky.
Oleh karena itu, Dicky menyarankan, penggunaan rapid test antigen pada penumpang pesawat terbang diperluas.
"Sarannya adalah gunakan saja rapid test antigen. Ada rapid test antigen yang bagus sekali sensitivitasnya, bahkan (pengambilan sampel) enggak sampai nyolok ke belakang. Bahkan sudah approved oleh FDA," ujar dia.
"Dan biarlah PCR itu sebagai tes konfirmasi, di RS, atau di tempat yang rapid test antigennya meragukan. Itu kembalikan ke khittah-nya," pungkas Dicky.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Tes PCR Jadi Syarat Naik Pesawat, Epidemiolog: Antigen Lebih Sesuai! - Kompas.com - KOMPAS.com
Read More
BMKG Deteksi La Nina di Samudra Pasifik, Curah Hujan di NTT akan Naik, Waspada Badai Tropis - Rakyat NTT

Jakarta, RNC – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berhasil memonitor terjadinya pendinginan suhu muka air laut di Samudera Pasifik ekuator sejak awal Oktober 2021.
Menurut BMKG, pendinginan suhu muka air laut mencapai minus 0,61 yang menunjukkan terjadi fenomena La Nina. Dalam catatan BMKG penurunan suhu dingin secara teori telah melewati ambang batas 0,5 sebagai syarat terjadinya La Nina dengan intensitas lemah.

Saat ini, pada dasarian tiga Oktober, penurunan suhu muka laut di Samudera Pasifik ekuator terus bertahan, bahkan terdeteksi mencapai minus 0,92 dan jika mencapai satu, maka La Nina sudah mencapai level moderat atau menengah.
La Nina adalah fenomena yang dikontrol oleh perbedaan suhu muka air laut antara Samudera Pasifik bagian tengah (ekuator) dengan wilayah perairan Indonesia, sehingga suhu muka laut di wilayah Indonesia menjadi lebih hangat.
Kondisi tersebut menyebabkan tekanan udara yang mendorong pembentukan awan dan berdampak terjadi peningkatan curah hujan.
Seperti pengalaman La Nina pada 2020, terjadi peningkatan curah hujan 20-70 persen lebih tinggi dari normalnya dalam sebulan.
Kondisi tersebut tentu semakin mengkhawatirkan terlebih lagi Indonesia saat ini memasuki musim hujan. Maka perlu diwaspadai potensi terjadinya peningkatan bencana hidrometeorologi.
BMKG bersama badan meteorologi dunia lainnya yang turut memantau fenomena La Nina memprediksikan La Nina tahun ini akan berdampak, setidaknya sama dengan 2020 pada level lemah hingga moderat dan akan bertahan hingga Februari 2021.
Seperti dilansir Antara, berdasarkan pantauan BMKG, hingga pertengahan Oktober sebanyak 20 persen wilayah Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim hujan, namun sebagian juga masuk pada September.
Pada kejadian La Nina 2020, terjadi peningkatan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
Kondisi tersebut, menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, diprediksi peningkatan curah hujan secara konsisten sejak November hingga Januari 2022. Pada November, beberapa wilayah diprediksi akan meningkat curah hujan bulanan 70, bahkan dapat mencapai 100 persen.
Sementara pada November 2021, diprediksi peningkatan curah hujan merata di Jawa, Bali, NTB dan cukup merata di NTT serta secara sporadis di Sumatera, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan dan Maluku Utara.
Pada Desember 2021, diprediksi semakin meningkat di Jawa, Bali, NTB, NTT. Di Sumatera Utara, Kalimantn Selatan dan sporadis di Kalimantan Timur serta Sulawesi Selatan.
Meski sebagian daerah diprediksi mengalami dampak La Nina, sehingga mengalami peningkatan curah hujan, ada beberapa daerah yang justru kekurangan air karena intensitas hujan menurun, seperti Sumatera yang curah hujan sporadis dan Kalimantan Barat.
Jadi dalam satu pulau ada yang mengalami penurunan curah hujan dan ada pula yang meningkat, kata Dwikorita, sehingga perlu diwaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Pada Januari 2022 dampak La Nina semakin meluas di Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, sporadis di Sumatera, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan sporadis di Kalimantan Timur serta hampir merata di Sulawesi.
Kemudian pada Februari 2022 diprediksi curah hujan meningkat di beberapa wilayah, masih merata dan meluas di Jawa, Bali, NTB dan NTT lebih tinggi.
Selain dampak La Nina, perlu diwaspadai badai tropis yang sering terjadi pada Januari-Februari yang muncul di wilayah NTT.
(*/ant/rnc)
BMKG Deteksi La Nina di Samudra Pasifik, Curah Hujan di NTT akan Naik, Waspada Badai Tropis - Rakyat NTT
Read More
Fenomena La Nina Diprediksi Akhir 2021, Apa Dampaknya ke Petani dan Nelayan? - Kompas.com - KOMPAS.com

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan agar masyarakat bersiap dan waspada menghadapi La Nina yang diprediksi terjadi pada akhir 2021.
Sebab, La Nina mengancam ketahanan pangan Indonesia, terutama melalui sektor pertanian dan perikanan.
Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, ancaman ketahanan pangan itu terjadi karena La Nina berpotensi merusak tanaman akibat banjir, hama, dan penyakit tanaman.
Oleh karena itu, kata Dwikorita, pemerintah harus memberi perhatian lebih pada dua sektor tersebut.
"Selain itu, La Nina mengurangi kualitas produk karena tingginya kadar air," ujar Dwikorita dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (29/10/2021).
Dwikorita memberi gambaran, pada sektor perikanan, pasokan ikan akan berkurang drastis lantaran nelayan tak bisa melaut.
Jikalau dipaksakan melaut pun, hasil tangkapannya tak akan maksimal karena tingginya gelombang.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email
Alhasil, harga hasil laut di pasaran akan cenderung mahal.
Baca juga: Kemenhub Siapkan Rencana Mitigasi Bencana Hadapi Badai La Nina
Peringatan dini La Nina
La Nina merupakan fenomena mendinginnya Suhu Muka Laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur hingga melewati batas normalnya.
Kondisi tersebut memengaruhi sirkulasi udara global yang mengakibatkan udara lembab mengalir lebih kuat dari Samudra Pasifik ke arah Indonesia.
Akibatnya, di wilayah Indonesia banyak terbentuk awan dan kondisi ini diprediksi bisa meningkatkan curah hujan sebagian besar wilayah tanah air.
Menurut Dwikorita, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini terhadap ancaman datangnya La Nina menjelang akhir tahun ini.
Berdasarkan pemantauan terhadap perkembangan terbaru dari data suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menunjukkan bahwa saat ini nilai anomali telah melewati ambang batas La Nina yaitu sebesar -0.61 pada dasarian I Oktober 2021.
Kondisi ini berpotensi untuk terus berkembang dan Indonesia harus segera bersiap La Nina yang diperkirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah-sedang, setidaknya hingga Februari 2022.
Baca juga: Berpotensi Terjadi di Akhir Tahun, Fenomena La Nina Bisa Mengancam Ketahanan Pangan
Dampak positif La Nina
Walau diperkirakan mengancam ketahanan pangan, masih ada dampak positif yang dibawa La Nina bagi petani dan pekerja sektor kelautan.
La Nina menyediakan pasokan air yang berpotensi meningkatkan produktivitas pertanian.
Sementara, bagi pekerja di sektor kelautan, La Nina membuat perluasan area pasang surut wilayah pesisir yang dimanfaatkan oleh nelayan tambak budidaya dan garam.
Belajar dari La Nina 2020
Jika melihat kejadian La Nina 2020, hasil kajian BMKG menunjukkan bahwa curah hujan mengalami peningkatan pada November-Januari.
Terutama di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTT, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan.
Dwikorita menjelaskan, prediksi untuk La Nina tahun ini relatif sama dan akan berdampak pada peningkatan curah hujan bulanan berkisar antara 20-70 persen di atas normalnya.
BMKG juga memperkirakan bahwa sebagian wilayah Indonesia yang akan memasuki periode musim hujan mulai Oktober 2021, meliputi wilayah:
- Aceh bagian timur
- Riau bagian tenggara
- Jambi bagian barat
- Sumatra Selatan bagian tenggara
- Bangka Belitung
- Banten bagian barat
- Jawa Barat bagian tengah
- Jawa Tengah bagian barat dan tengah
- Sebagian DI Yogyakarta
- Sebagian kecil Jawa Timur
- Kalimantan Tengah bagian timur
- Kalimantan Selatan
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Utara.
Beberapa wilayah Indonesia lainnya akan memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2021 secara bertahap dalam waktu yang tidak bersamaan.
Secara umum, hingga November 2021, diperkirakan 87,7 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan.
Pada akhir Desember 2021, BMKG memperkirakan 96,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan.
"Sebagai langkah mitigasi guna meminimalkan risiko, BMKG terus melakukan Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN). Karena meski La Nina adalah ancaman, namun di sisi lain ada hal positif yang juga dibawa," kata Dwikorita.
Baca juga: BNPB Ingatkan Masyarakat dan Pemda Antisipasi Potensi Dampak La Nina
Antisipasi BNPB soal fenomena La Nina
Merespons kemungkinan La Nina, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di 34 provinsi untuk mengambil langkah kesiapsiagaan menghadapi fenomena ini.
Hal itu bertujuan untuk mencegah maupun menghindari dampak buruk bahaya hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang, yang dipicu fenomena tersebut.
"Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina tahun 2020 menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan bulanan di Indonesia hingga 20 persen sampai dengan 70 persen dari kondisi normalnya," pesan Deputi Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi, dikutip dari laman BNPB, Jumat (29/10/2021).
Ia menekankan, peningkatan curah hujan itu berpotensi memicu terjadinya bencana hidrometeorologi.
Baca juga: Fenomena La Nina Diprediksi Akhir 2021, Apa Dampaknya untuk Indonesia?
Menyikapi potensi bahaya dampak La Nina, Prasinta mengharapkan BPBD provinsi untuk mewaspadai dan menginstruksikan BPBD di tingkat kabupaten dan kota melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan.
Ia juga mengingatkan, pihaknya telah memiliki informasi kerawanan bencana di tingkat desa atau kelurahan.
Informasi tersebut dapat diakses pada Katalog Desa Rawan Bencana, sedangkan pada konteks risiko, pemerintah daerah maupun masyarakat dapat melihat pada laman atau aplikasi inaRISK.
Mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi basah, pihaknya meminta adanya persiapan dini terkait sumber daya manusia, logistik, peralatan, dan persiapan fasilitas layanan kesehatan sesuai dengan penerapan protokol kesehatan dalam penanganan Covid-19.
Sumber: Kompas.com (Penulis: Dandy Bayu Bramasta | Editor: Inggried Dwi Wedhaswary)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Fenomena La Nina Diprediksi Akhir 2021, Apa Dampaknya ke Petani dan Nelayan? - Kompas.com - KOMPAS.com
Read More
Daftar Fasilitas Negara yang Tak Boleh Digunakan Jokowi Jika Kampanye - Nasional Tempo
TEMPO.CO , Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan presiden boleh memihak dan melaksanakan kampanye dalam pemiliha...
-
Let's block ads! (Why?) 5 Fakta Terungkap Atas Tenggelamnya KRI Nanggala 402 - KOMPASTV Read More
-
Adblock test (Why?) Pengakuan Yoris, Anak Korban Pembunuhan Subang Dapat Rp12 Juta dari Yayasan, Yosef Tak Dapat Gaji - Tribunnews Read...
-
Hujan lebat yang terjadi di daerah Sewon, Bantul, Jumat (14/2/2020). (Sumber: Tribunjogja.com/Susilo Wahid) SOLO, KOMPAS.TV - Peringata...